Blog Edukasi

Focal Dystonia III : Bagaimana Mencegahnya?

Oleh Calvina Vircelli 

kunjungi juga juga websitenya di playwithheart.net

 

Fokal Distonia – Bagian ke 3

Artikel ini akan membahas cara – cara pencegahan Distonia dan akan dibagi menjadi 2 bagian. Bagian kedua atau terakhir akan dimuat beberapa saat setelah artikel ini dimuat.

Seperti yang pernah disebut sebelumnya, sampai saat ini belum ada metode penyembuhan untuk Distonia, oleh karena itu akan lebih baik bila kita bisa mencegahnya.

Pencegahan ini akan saya bagi dalam 4 aspek, yaitu melalui pengertian akan pergerakan motorik manusia, kondisi psikis seseorang, postur dan teknik dalam bermain instrumen, dan pengertian akan cara berlatih yang sehat. Keempat aspek ini harus diperhatikan, sehingga tercipta kondisi yang seimbang antara psikologi dan fisiologi.

Aspek yang pertama, yakni pengertian akan pergerakan motorik, adalah hal yang mungkin hampir tidak pernah kita bahas dalam permainan instrumen. Musisi tidak mendapatkan informasi mendalam terkait hal ini, padahal profesi mereka erat dengan fungsi motorik. Perlu diketahui, bahwa otak kita berkerja sangat kompleks. Untuk menghasilkan satu gerakan, otak harus mengkalkulasikan berbagai kemungkinan, sehingga menghasilkan gerakan yang dianggap paling efisien. Contoh, untuk melempar bola, otak memperkirakan otot mana yang harus digunakan, berapa kecepatan yang kita butuhkan, dan seberapa besar tenaga yang kita perlukan.

Gerakan efisien yang dikalkulasikan tersebut adalah hasil yang terbentuk awalnya dari insting dan berikutnya bisa terbentuk dari pengulangan yang kita lakukan, contohnya mengkalkulasikan parameter di komputer. Sayangnya, musisi tidak memiliki akses tersebut. Yang bisa kita lakukan adalah lebih memperhatikan pergerakan kita dan menganalisa hasilnya, sehingga kita bisa menciptakan gerakan dengan tekanan yang tinggi. Ini adalah salah satu prinsip dari Alexander Technik, metode di mana seseorang memperhatikan secara detail, apa yang dia rasakan saat dia melakukan satu gerakan.

Aspek kedua yang harus diperhatikan untuk mencegah Distonia adalah keadaan psikis seseorang. Dalam studinya, Farias mencoba menganalisa kepribadian seseorang dengan

Distonia. Hasilnya, penderita memiliki beberapa kesamaan, yaitu mereka hiperaktif dan hipersensitif. Hiperaktif di sini bisa diartikan memiliki kecenderungan ingin belajar lebih cepat, tanpa memproses informasi secara mendetail Hypersensitif bisa diartikan sensitif terhadap cahaya terang, kebisingan, atau gerakan yang tiba – tiba.

Keadaan psikis seseorang juga mempengaruhi bagaimana cara mereka menangani stress. Pada saat mengalami stress, zat kimia Kortisol akan dihasilkan. Jika levelnya terlalu tinggi, maka banyak neuron di Hippocampus yang akan mati, yang sangat penting untuk proses belajar. Seseorang akan kesulitan belajar jika tingkat stress sangat tinggi. Sebaliknya, jika levelnya rendah atau kita mempunyai motivasi tinggi, maka proses belajar akan lebih mudah. Oleh karenanya, sangat penting jika seseorang bisa menangani stress dan tidak membiarkan situasi ini belangsung lama.

Aspek ketiga adalah postur dan teknik. Saya akan fokuskan pada permainan gitar, tapi ini bisa diimplementasikan ke instrumen lain. Postur dan teknik adalah hal yang esensial, karena sebagai musisi profesional, kita akan menghabiskan banyak waktu untuk latihan. Jika postur tubuh tidak nyaman dan memberikan ekstra ketegangan, hal ini bisa berakhir dengan cidera. Bermain gitar klasik memiliki posisi bermain yang tidak natural. Cara duduk tradisional adalah satu kaki terangkat. Tapi untungnya belakangan ini banyak produk guitar support, yang membuat kedua kaki kita bisa berada di level permukaan yang sama.

 

Point berikutnya adalah posisi tangan. Lain halnya dengan pianis yang kedua tangannya

terjatuh mengikuti gravitasi saat bermain, gitaris harus mengangkat tangan kirinya dan berada di posisi ini saat bermain. Supaya kita bisa tetap nyaman bermain di posisi ini, ada beberapa hal yang bisa kita terapkan:

 

1. Perlu diperhatikan bahwa berat tangan kiri harus tetap searah dengan gravitasi. Jangan melawannya dengan cara menggerakan siku ke arah atas.

2. Terapkan juga konsep press and release. Maksudnya, setelah menekan senar segera kembalikan tekanan jari ke keadaan normal, walaupun hanya sepersekian millisecond.

3. Jangan biarkan posisi tangan statis. Contohnya, pada saat bermain tangga nada, ikuti pergerakan jari secara natural. Hal ini akan membuat pergelangan tangan sedikit

menekuk. Ciptakan pergerakan yang dinamis.

 

Untuk tangan kanan, ada juga hal yang perlu diperhatikan, seperti:

1. Perhatikan sudut yang terbentuk di antara sendi. Semakin kecil sudut yang terbentuk, semakin terbatas pergerakan kita dan semakin banyak tenaga yang diperlukan. Sudut yang efisien adalah 70-90 derajat.

 

2. Kemampuan independen jari harus dilatih dengan kesabaran dan tanpa tekanan waktu. Secara fisiologi, jari kita berbagi sendi yang sama, kecuali jari telunjuk dan ibu jari., Karenanya kedua jari ini bisa bergerak tanpa menggerakan jari yang lain. Bila kita melakukan latihan independen dengan eksesif, bisa timbul cidera, karena gerakan ini  padad bukanlah gerakan natural manusia.

 

3. Memahami istilah Power grip dan precision grip. Di saat kita mengepalkan jari, itu yang disebut dengan power grip. Kita menekukan sendi dari pangkal jari. Precision grip lain halnya, adalah tekukan 2 sendi paling bawah. Contohnya, pada saat kita mengambil barang dengan ujung jari. Power grip membutuhkan lebih banyak tenaga daripada precision grip. Oleh karenanya, jangan memilih pergerakan ini sebagai posisi awal bermain. Power grip bisa kita gunakan jika kita ingin bermain forte, di mana kita membutuhkan pergerakan dari sendi utama, yang menghasilkan lebih banyak tenaga.

Teknik dan postur seringkali hanyalah proses imitasi dari guru ke murid. Nyatanya, setiap orang memiliki keunikan, baik dari postur, ukuran tangan dan jari, serta fleksibilitasnya. Akan lebih bijaksana, jika teknik dianalisa dengan durasi waktu tertentu dan jika menghambat pergerakan, pemain harus mencari teknik yang lebih baik.

Farias berkata bahwa Distonia adalah proses ketidakpahaman dan ketidaksensitivan akan tubuh.

 

Bersambung…

 

 

CALVINA VIRCELLI

Calvina Vircelli memulai pelajaran gitar pertamanya pada umur 14 tahun. Setelah menyelasaikan S1 di Universitas Pelita Harapan di jurusan musik (Music Performance), Calvina melanjutkan studi ke Austria. Diplom Klassik di Johann Joseph Fux Konservatorium telah diselesaikan dan sekarang Calvina sedang menyelesaikan Bachelor keduanya (Instrumental Musikpädagogik) di Anton Bruckner Privatuniversität.

1 comment on “Focal Dystonia III : Bagaimana Mencegahnya?

  1. Pingback: Focal Dytonia IV : Metode Latihan Sehat – GUITANESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: