Music News

Live Report from the 2018 Frankfurt Musikmesse! (Part 1)

By Theduardo Prasetyo

(Scroll ke bawah untuk artikel ini dalam Bahasa Indonesia)

It has been 4 years since the last time I visited the Musikmesse. I was just freshly landed “off the boat” (or plane nowadays) in Frankfurt am Main, being in Europe for the first time in my life. Some days after I read about the International Music Expo in Frankfurt and decided to visit as a normal visitor. Now, 4 years later, I decided to give the Musikmesse a visit again, but this time as an official journalist for Guitanesia.

Despite the workers’ strike on the day I visited the Expo (no trams and subway for the whole day!) and the fact that it was raining non-stop all day, the expo was still packed full of people with various different backgrounds and motives. Some were school students doing field trip, others were exhibitors from all around the world, and of course visitors who were really curious about all the things going on at the messe.

First thing I saw after entering the giant hall for stringed instruments was not an instrument, but a kindle-like ebook device for sheet music.

 

 

 

 

 

 

It has the size of two A4 paper that could be folded together and cannot be separated. It also comes with a pen (no battery required!) which can be used to write notes on the sheet music. The display is black and white, exactly like a eBook that doesn’t reflect any sunlight, so you could use the device outside! They also provide a pedal for turning the pages with bluetooth or with cable connection with the device.

Second interesting thing I encountered right after the Gvido device was this one down here

IMG_20180413_115900
Master Acoustics

Not an amulet, not a speaker, not even a high-tech “kerokan” (Indonesians will definitely know this; any round object (usually a coin) used to massage the body). It is a sophisticatedly designed resonator for any instruments. It comes in different sizes for various instruments, for example : smaller size for violin, and bigger size for lower-pitched instruments. It works by channeling the vibrations and resonances better through the body, instrument and vice versa. In order for it to work properly, the device has to touch the musical instrument when it is being played. Through better resonances, the sound of the musical instrument will be enhanced and also will be heard better in whatever room it is being played in. This resonator doesn’t need any battery or electricity to work. You just simply strap it around your leg, if you play guitar; or your arm if you violin. They even have violin rest specially equipped with the resonator, so you don’t have to strap anything on your arm. As a gift, the nice inventor himself, Jack Chen, gave me stickers that I could use to enhance the resonance on any device, such as mobile phones, and laptops.

IMG_20180413_121340
Pull-Away Guitar

Next on the list the company pull-away guitar, a spanish guitar company and a also luthier atelier which make handmade artisanal guitars. For what we know, there are some different methods to put the neck and the body of the guitar together : neck-through (the wood of the neck goes all the way into the body of guitar (for electric guitars), set-neck (the wood of the neck is fitted into the top body of the guitar like two pieces of puzzle), and bolt on (simply with a bolt connecting the neck and the body of the guitar).

This company specially made guitars, whose neck and body can be separated and connected again at your will. Simply by tuning the strings down, you can pull away the neck and separate the body. This concept is thought for guitarists who travel a lot and carry their guitar with them. With this guitar, you can simply store the guitar in your luggage or backpack, and travel away! The sizes of the guitar they made also vary. The ones I tried were copies of old 1850s guitar which is smaller and make more sense to put it in your luggage. They also sounded really nice! It also comes in smaller sizes and various level, for example for small students, so they can’t give excuses anymore for not practicing in their vacations!

This is the end of part 1, we will also put more pictures of the expo and stay tuned for part 2!


cutmypic

THEDUARDO PRASETYO

Theduardo has performed in Indonesia as well as abroad. He started by learning guitar and then cello, where he has played as cellist in various orchestras and ensembles in Jakarta. After his bachelor’s studies at Hochschule für Musik Detmold with Prof. Dale Kavanagh, he is currently pursusing his Master’s degree at Hochschule für Musik “Hanns Eisler” Berlin.

instagram.com/theduardo.guitar/

theduardo.com


Live Report from the 2018 Frankfurt Musikmesse! (Bagian 1)

Oleh Theduardo Prasetyo

instagram.com/theduardo.guitar/

theduardo.com

Sudah 4 tahun berlalu setelah saya pertama kali mengunjungi Musikmesse di Frankfurt. Pada waktu itu, saya baru saja mendarat di Frankfurt am Main, untuk pertama kalinya menginjakan kaki di tanah Eropa dalam hidup saya. Beberapa hari setelahnya, saya membaca iklan untuk Musikmesse dan memutuskan untuk mengunjungi pameran ini sebagai pengunjung. Sekarang, 4 tahun setelahnya, saya kembali mengunjungi Musikmesse, tapi kali ini sebagai jurnalis untuk Guitanesia.

Meskipun sedang berlangsung demo serikat pekerja (tidak ada tram, maupun kereta bawah tanah untuk sehari penuh!) dan juga hujan deras yang tidak berhenti sepanjang hari, pameran ini tetap penuh dikunjungi pengunjung dari berbagai macam latar belakang. Beberapa merupakan murid-murid yang sedang karyawisata, lainnya merupakan peserta pameran dari berbagai penjuru dunia, dan sisanya merupakan pengunjung yang penasaran akan berbagai macam produk yang dipamerkan.

Hal pertama yang saya lihat setelah masuk ke dalam hall raksasa khusus untuk alat musik bersenar bukanlah sebuah instrumen, melainkan alat semacam eBook khusus untuk partitur musik.

 

 

 

 

 

 

 

Alat ini memiliki ukuran dua buah kertas A4 yang bisa dilipat, tapi tidak bisa dipisahkan satu halaman dengan lainnya. Alat ini juga dilengkapi dengan sebuah pena elektrik (tanpa butuh bateri!) yang bisa digunakan untuk menulis catatan di partitur tersebut. Layarnya hanya menampilkan warna hitam putih, persis seperti eBook yang tidak memantulkan cahaya matahari agar alat ini juga bisa digunakan di luar ruangan. Mereka juga menjual pedal yang bisa digunakan untuk membalik halaman dengan koneksi bluetooth atau dengan koneksi kabel.

Hal menarik kedua yang saya lihat persis setelah alat Gvido di atas adalah alat di bawah ini.

IMG_20180413_115900
Bukan jimat, bukan speaker

Ini bukan jimat, bukan speaker, dan juga bukan kerokan berteknologi tinggi, tapi merupakan sebuah alat yang didesain sedemikian rupa untuk meningkatkan resonansi instrumen apapun. Alat ini tersedia dalam berbagai ukuran untuk berbagai macam ukuran instrument, misalnya : ukuran lebih kecil untuk biola, ukuran lebih besar untuk instrumen yang lebih rendah seperti gitar. Alat ini bekerja dengan menyalurkan resonansi dan getaran lebih baik ke instrumen dan seluruh tubuh, dan sebaliknya. Agar bisa bekerja dengan baik, alat ini harus menyentuh instrumen yang dimainkan. Alat ini dapat bekerja tanpa membutuhkan listrik. Hanya dengan memasang tali ke paha (untuk gitar) atau bahu (untuk biola), alat ini bisa bekerja. Mereka bahkan mendesain shoulder rest khusus agar dapat beresonansi dengan lebih baik. Sebagai hadiah kecil, penciptanya sendiri, Jack Chen, memberikan saya stiker yang dapat dipasang di alat apapun (misalnya handphone atau laptop) agar dapat beresonansi dengan lebih baik.

IMG_20180413_121340
Pull-Away Guitar

Peserta pameran selanjutnya adalah Pull-Away Guitar, sebuah perusahaan Spanyol yang juga memiliki gitar luthier buatan tangan yang berkualitas tinggi. Seperti yang kita tahu, ada beberapa cara untuk memasang leher pada badan gitar. Ada cara neck-through (leher yang panjang sampai ke dalam badan gitar, biasanya digunakan pada gitar elektrik), set-neck (bagian leher dibentuk agar dapat masuk ke ujung atas badan gitar seperti dua buah puzzle), dan bolt-on (dengan baut yang menempelkan leher dan badan gitar bersamaan.

Perusahaan ini membuat gitar khusus yang leher dan badannya dapat ditempel dan dipisahkan sesuai keinginan. Hanya dengan menyetem gitar sampai longgar, leher gitar dan badan dapat dipisahkan. Konsep ini tentu saja berguna untuk gitaris yang sering bepergian dengan gitarnya. Gitar yang sudah dipisahkan dapat dimasukan ke dalam ransel ataupun koper. Ukuran gitar yang saya coba termasuk kecil, karena mereka merupakan kopi dari gitar tahun 1850 yang memang berukuran lebih kecil dan muat untuk dimasukkan ke dalam ransel atau koper. Bunyi gitar ini juga cukup memuaskan! Mereka juga menyediakan gitar untuk anak-anak yang nantinya jika digunakan oleh murid-murid, mereka tidak akan bisa lagi beralasan untuk tidak latihan di liburan!

Sampai sini dulu saya bercerita di bagian pertama, kami akan mengunggah lebih banyak gambar lagi dan tentu saja tunggu artikel bagian ke dua!


cutmypic

THEDUARDO PRASETYO

Sebagai gitaris, Theduardo telah tampil baik di Indonesia maupun di luar negeri. Ia memulai dengan belajar gitar dan kemudian cello, dimana ia juga telah aktif bermain di orkestra dan ensemble di Jakarta. Theduardo saat ini sedang menempuh studi master di Hochschule für Musik “Hanns Eisler” Berlin.

instagram.com/theduardo.guitar/

theduardo.com

Advertisements

0 comments on “Live Report from the 2018 Frankfurt Musikmesse! (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: