Features Interview

Interview : Dion Janapria – Menjembatani Musik Melalui Improvisasi

Scroll down for the article in English

Dion Janapria bukan hanya seorang gitaris jazz, tapi juga aktif mendidik melalui proyek yang ia buat, misalnya Gulir Bunyi. Belakangan ini juga ia sedang akan mengeluarkan buku “Antologi Musik Jazz dan Pop Indonesia”. Kami mewawancarai Dion dan bertanya soal proyek-proyek yang ia lakukan dan juga pandangannya mengenai kondisi musik di Indonesia.

 

 

Bisa ceritakan latar belakang pendidikan dan karir Anda di bidang musik ?

Saya mendapatkan gelar S1 Music Arts and Education- Hogeschool voor de Kunsten Utrecht, Nederland (2005) dan gelar S2 Seni Urban dan Industri Budaya- Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (2017)

Bagaimana pandangan Anda mengenai kondisi musik jazz di Indonesia?

Baik. Itu saja, setidaknya kita masih dalam kurva perkembangan yang benar. Memang sekarang kendalanya adalah ekosistem musik yang belum lengkap dan belum tersedianya ruang-ruang memadai untuk perkembangan jazz.

Iklim jazz sekarang memang sangat bergantung kepada festival jazz. Jadi, sebenarnya tidak perlu mengeluh tentang festival jazz yang tidak ngejazz, karena sebenarnya kita belum punya apa-apa.

Ruang apresiasi itu harus kita diciptakan. Jadi, kalau bisa dibayangkan, infrastruktur kita tidak berkembang dari 8-10 tahun yang lalu (bahkan berkurang di tempat tertentu). Tapi, jumlah pemain semakin banyak. Contohnya dalam urusan media, ketersediaan ruang apresiasi masih minim sekali. Sementara dalam kurung waktu yag sama akademisi kita mencetak banyak lulusan-lulusan musik yang berkualitas. Jadi, jelas ada yang salah dengan pola ini

Artinya apa? Ruang apresiasi harus diciptakan, media harus dibuat dan didukung, festival harus digunakan sebagaimana kapasitasnya – baik dalam industri musik populer, maupun dalam lingkup tradisi jazz. Kebanyakan orang hanya mempersoalkan kandangnya aja, tanpa menyadari bahwa mungkin memang ayamnya yang salah masuk kandang, karena belum banyak kandang yang sesuai dengan habitatnya. Solusinya adalah, tentu saja, membuat kandang baru yang sesuai habitat.

Sebagai salah satu gitaris jazz yang aktif di bidang pendidikan, apakah Anda punya keprihatinan mengenai kondisi pendidikan gitar jazz saat ini? atau justru mengalami perkembangan?

Gitar? Terlalu sempit. Pendidikan musik kita sekarang masih di tahap ‘how to’, bukan ‘where to?’. Misalnya how to play bebop, how to play baroque, dll. Tapi, kita belum sampai ke tahapan bagaimana menggunakan teks budaya ini untuk lebih mengerti identitas kita sebagai musisi Indonesia.

Jazz itu sekarang sudah menjadi gaya hidup. Tapi, tanpa membangun ruang-ruang apresiasi dan infrastruktur publik, pendidikan jazz itu tidak banyak pengaruhnya. Apakah semua orang yang sudah mahir hanya menjadi session player? Tidak mau bikin album karena tidak balik modal, dan akhirnya miskin inovasi. Apakah para lulusan musik S1 yang pintar-pintar tersebut masih tidak ada yang tahu kenapa industri musik serapannya kecil sekali? Mari kita lihat dulu dari sisi ini.

Pendidikan itu harus relevan. Tapi, kalau hanya menjunjung elitisme atas standar dan kompetensi melulu tanpa membangun ruang, akhirnya jadi seperti ini. Seperti istilah ‘music conservatory’ yang sebenarnya lucu sekali. Sewaktu saya di Eropa, istilah itu memang dipakai untuk konservasi budaya mereka yang berbasis musik klasik. Kalau dalam konteks Indonesia, apa yang ingin kita conserve? Ingin dibawa kemana tujuan kita jelas harus berasal dari kesadaran sejarah dan rekontekstualisasi kebudayaan kita.

Mengenai proyek Anda mengenai Gulir Bunyi dan Utas Gita, bisakah Anda ceritakan mengenai latar belakang proyek tersebut, serta apa yang ingin disampaikan serta tujuan yang ingin dicapai melalui proyek tersebut? Apakah hal tersebut mengarah kepada free jazz atau bagaimana?

Gulir Bunyi itu adalah sebuah konsep. Konsep bagaimana menjembatani ilmu pengetahuan di musik dengan publik yang lebih luas. Singkatnya, dalam mengapresiasi dan berkreasi musik, biasanya kita memiliki halangan berupa pemahaman teori musik dan teknik. Gulir Bunyi merombak semua ini dengan menghilangkan halangan dan membalik prosesnya, menjadi proses yang mengedepankan intuisi/imajinasi-afirmasi terlebih dahulu daripada pemikiran logis.

Program utama Gulir Bunyi adalah Gulir Bunyi & Utas Gita yang berupa workshop improvisasi grup berbentuk Musical Game, dan Wiyata, yaitu masterclass yang bersifat project based. Semua dirancang untuk sistem pembelajaran yang berlandaskan pengalaman (experience based studies), bukan sistem formal yang berunut.

Ibaratnya, jika Anda ingin tahu seberapa tinggi menara eiffel, maka Anda harus naik sendiri untuk merasakan tingginya. Metode Gulir Bunyi memungkinkan ini, dimana peserta yang berasal dari latar belakang berbeda (peserta GB kebanyakan masyarakat urban dengan beragam profesi dari umur 13-57 tahun), dapat pengalaman langsung proses berkreasi musik, improvisasi musik, film scoring, belajar harmonika bahkan hingga musik tradisi. Semua ini didapatkan melalui kegiatan partisipatif dan kolaboratif yang didesain untuk bisa mengakomodasi berbagai latar belakang peserta.

Membangun ruang apresiasi untuk musik, membangun rasa penasaran, mengembangkan imajinasi, dan kreativitas melalui musik harus dimulai dari akar. Tidak perlu mengeluh soal rendahnya apresiasi musik masyarakat untuk seni, jika selama ini tidak pernah ada usaha untuk menjembatani ini.

Intinya, jika ingin membuat orang lain mengerti soal apresiasi musik, jangan hanya menyuruh semua orang untuk les musik atau datang ke festival. Tapi, minat itu pertama datang dari pengalaman, yang menumbuhkan kesan, dan baru kemudian muncul proses afirmasi dan apresiasi.

Lalu bisa ceritakan mengenai latar belakang dan tujuan dari Myspeakeasies yang juga menjadi salah satu proyek Anda?

myspeakeasies.com bukanlah sebuah proyek. Lebih tepatnya blog yang saya pakai untuk menampung pikiran dan mengutarakan gagasan mengenai musik, seni, dan budaya.

Belakangan ini saya memang berusaha mengangkat beberapa resensi album musik (terutama jazz). Berhubung juga ada permintaan dari beberapa teman. Kita sangat membutuhkan resensi musik sebagai salah satu cara untuk membangun ruang apresiasi.

Apakah iya musisi musisi melihat “resensi kesenian” hanya berdasarkan like & comments di media sosial? Itu kan menyedihkan. Selama saya masih punya waktu dan kemampuan untuk menulis resensi yang bisa membantu publik untuk lebih mengerti kesenian musik & mengangkat nilainya, kenapa tidak?

Kabarnya Anda sedang mengerjakan buku real book jazz khusus Indonesia, bisa ceritakan mengenai hal tersebut?

Antologi Musik Jazz & Populer Indonesia adalah proyek yang saya inisiasi, bekerjasama dengan Komite Musik di Dewan Kesenian Jakarta dan Irama Nusantara. Sekarang sudah dalam tahapan akhir dan akan diterbitkan di bulan November. Buku ini berisi 176 partitur lagu Indonesia dari ranah jazz dan populer yang berkisar dari tahun 1950-an hingga 2016.

Singkatnya, karena saya melihat adanya kebutuhan di masyarakat akan buku lagu jazz & populer Indonesia yang komprehensif & dikurasi dengan baik. Dengan tujuan untuk menegaskan identitas kita sebagai seniman Indonesia. Bukan hanya untuk tujuan akademik, tapi format ‘realbook’ ini juga mengakomodir penggunaan yang luas dari musisi baik amatir hingga profesional.

Saya tidak ingin terlalu muluk. Ide yang bagus adalah ide yang diimplementasikan. Memang ada rencana pengarsipan, tapi perhatian saya lebih terarah kepada memperluas akses sejarah untuk generasi berikutnya. Kalau berkat buku ini lagu-lagu tersebut akan diolah, diaransemen, atau direproduksi ulang 20-40 tahun dari sekarang, saya akan tetap senang. Artinya buku ini ada manfaatnya, bukan sekedar masuk kolom ‘pengarsipan’ di perpustakaan.


English Version

Could you tell us about your musical education and background?

I completed my Bachelor in Music Arts and Education at Hogeschool voor de Kunsten Utrecht in the Netherlands. I finished my Master in Urban Arts and Cultural Industry at Institut Kesenian Jakarta.

What is your view on the current jazz music situation in Indonesia?

Good, that’s all. At least we are still in the proper development process. The problems now are the music ecosystem, which is still left without care, and the lack of space for further development in jazz.

In the current situation we do really depend on jazz festivals. So we don’t really need to complain about jazz festivals that doesn’t feature “real” jazz music because without it we basically have nothing.

The space for new developments has to be created. Our infrastructure has been the same for the last 8-10 years, but the number of players have grown. So, if you can picture the situation, our infrastructures have stayed the same for the last 8-10 years (even decreased in some places), but the number of musicians has grown. There is very little appreciation in the media, while in the same period of time our universities have produced many quality scholars. So clearly, there is some wrong with this pattern.

What does this mean? This means, the room for appreciation has to be created, media has to be created and supported, festivals have to be properly used in its own capacity; in the popular music industry, and in traditional jazz environment. Metaphorically speaking, many people only complained about the cage, without realising that maybe the chicken is in the wrong cage, because there aren’t many cages with the right habitat condition. The solution? Build new cages for the correct habitat.

As a jazz guitarist who is also actively working as an educator, do you have any concern for the current situation of jazz guitar education?

Guitar? Too narrow. Our current music education is still in the “how to?” phase; not “where to?”. For example, “how to play guitar”. It is still too narrow. We should move on to the “where to” phase. For example, how to play bebop, how to play baroque, etc. And we still haven’t used this cultural context to understand more about own identity as Indonesian musician.

Jazz has now become a lifestyle. Without building the appropriate art spaces and public infrastructure, jazz education won’t make much difference, or does everyone who can play really well only can perform as session player?

Many of them don’t want to make album because they won’t meet the financial breakeven point. So, now we don’t have any new innovation and now all these smart undergraduates still don’t know why it’s hard to find a job in the music industry? Maybe we can take a look from this perspective first.

The education has to be relevant. Our current situation is the result of putting elitism over standard and competency without building new art spaces, Like the term “music conservatory” is a bit off for Indonesia. When I was studying in Europe, the term “conservatory” was used to conserve their culture, which is classical music. But what is the context of “music conservatory” in Indonesia? We should know where we are heading with this without forgetting the historical and cultural context.

Can you tell us more about your projects “Gulir Bunyi” and “Utas Gita”? What is the story behind it and what is the project’s goal? Is it moving towards free jazz?

“Gulir Bunyi” is a concept to learn how to connect musical knowledge with mass public. In short, normally to be able to appreciate and create music we have some “barriers” in doing it, be that our understanding of music theory or technique. “Gulir Bunyi” tries to remove the barriers and reverse the process to a process which puts intuition or imagination first rather than logical thinking.

So, the main programs of “Gulir Bunyi” are Gulir Bunyi and Utas Gita, which are group improvisation workshops based on musical games. They are designed for an experience-based learning, not a systematic-formal learning. Methaporically speaking, if you want to know how high Eiffel tower is, you have to go up there yourself to feel the height. Gulir Bunyi method made this style of learning possible. Our participants come from many different backgrounds (many come the urban society with various profession from age 13-57). They got the experience of music making first hand – from music improvisation, film scoring, learning harmonica, all the way to traditional music by doing collaborative and parcitipative activity.

Appreciation for music, building curiosity, and expanding creativity through music have to started from the roots. Don’t complain about how music is not appreciated if there hasn’t been an attempt to start conveying art to the society.

To make people start appreciating music, don’t just tell them to go take music lessons and go to festivals. The willingness first comes from experience, which will grow an impression and then, appreciation

What is your reason and goal by doing Myspeakeasies?

myspeakeasies.com is not a project. It is a blog which I use to write about my opinion about music, art, and tradition.

Recently, I’ve been trying to write some album reviews, especially for jazz albums. We really need music reviews as a way to start building art appreciation space. We can’t base our art review on likes and comments on social media. That would be really sad. As long as I have the time and ability to write reviews which can help the public to know and understand more about music, why not?

We heard that you are currently working on an “Indonesian jazz real book”. Could you tell us a few words about it? What do you want to achieve by doing this?

Anthology of Indonesian Jazz and Popular Music is a project that I initiated with cooperation of the Music Comitee in Jakarta Arts Council and Irama Nusantara. It is now in the final phase and will be published in November. The book contains 176 sheet music from jazz and pop music genres ranging from 1950s until 2016.

In short, I see a need in the society for  a comprehensive Indonesian jazz and pop music book – not just for academicians, but the “real book” format” will suit a wider usage from amateur to professional musicians.

I don’t want to be pretentious. A good idea is an implemented idea. I hope that this book won’t just stay in the archives, but my concern is to widen access to history for the next generation. I would he happy, even if the songs in the book are arranged or played 20-40 years from now. It means that the book is useful for people and don’t just stay unused in the archives.

Advertisements

0 comments on “Interview : Dion Janapria – Menjembatani Musik Melalui Improvisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: