Features Interview

Interview: Lianto Tjahjoputro’s spritual interpretation of Bach’s masterpiece

For many musician, it is not common to play Bach’s music with incense, but not for Lianto Tjahjoputro. He found a different interpretation of Bach’s music. Lianto has his own style, a style that probably we will never find in any other guitarist.

Could you tell us about your musical background and education?

Lianto: I started to play pop music on guitar since I was in the fifth grade and continued by learning classical guitar at YASMI with Trie, Priadi, and Yanto as my teachers. At that time I often took part in the National Classical Guitar Competition. Then, I continued studying with Jos Breddie and went to Germany for further study with Eliot Fisk in 1984. In 1988, I held a big guitar event in Indonesia called “Surabaya Colossal Guitar Show” where 200 guitarists and 70 choir singers were involved. I acted as the dirigent in the show. In 1991, I competed again in the National Classical Guitar Competition and won the first prize. After the competition I moved to Bali and formed the organisation “Colossal Indonesian Classical Guitar Show”. Until today, I lead the organisation and I also took the name for my guitar course.

How did you write arrangements of Bach’s complex works for guitar?

Lianto: If people ask, what is Beethoven’s, Bach’s or Mozart’s most important work, they would answer with ten important works. I was obsessed with these important works. In my opinion, the most important works of all are Bach’s Passion of St.John and St.Matthew. For me personally, these two works bring my soul to a higher unlimited spiritual level. In the end I was obsessed to play these pieces on guitar. At that moment I was striving to arrange these pieces without a time limit, even if it would take ten years to finish. My arrangement of St.Matthew Passion was finished in 3 years and St.John in 2 years. Normally, it would take less time for me to write arrangements.

In your Youtube video, we saw you collaborating Bach’s piece with Pancasila mediation. You also put incense and spiritual ornaments. What message do you want to send by doing this video? And who is Bach for you?

Lianto: “Herr, unser Herrscher” from Bach’s St. John Passion has a deep spiritual meaning that may not be seen and enjoyed by people in general. Maybe many guitarists who play Bach’s pieces don’t even know Bach’s greatest works, two of which are St.Matthew Passion and St.John Passion. So I tried to make this spiritual meaning clearer by adding instruments used for praying or meditating such as ting shaw, singing bowl, and bajra. Finally, I added a mantra and gave it the title “Pancasila Meditation”.

Knowing that you have dedicated your life for classical guitar, what is your opinion on the current classical guitar condition in Indonesia?

Lianto: I think, classical guitar in Indonesia and the world has changed in this global age after the existence of social media like Facebook and YouTube. Now people can see guitarists from all parts of the world through computer or handphone. In Indonesia there’s still struggle from “guitar freaks”, who organise events and competition to find young talents. I called them “guitar freaks” because they must’ve spent a fortune and no profit. But this attempt to develop classical guitar is still regional and only focuses on their own people. Only those who really know the people and well-known are chosen.

What is the connection between classical guitar and humanistic values for you?

Lianto: I am not able to speak grandiosely about guitar and humanity, because humanity here has two meanings, in the personal and interpersonal context. Interpersonal in the context that classical guitar can benefit people. The benefits for people who learn guitar are clear. Classical guitar brings us to a higher musical taste, brings us to a spiritual level, and makes us face sad and happy situations differently.

What is your hope for the future of classical guitar?

Lianto: I hope classical guitar can always be an interesting instrument of choice for people to learn.


Bahasa Indonesia

Memainkan musik Bach dengan menyertakan dupa tentu bukan hal lazim bagi banyak orang, tetapi tidak pada Lianto Tjahjoputro, ia menemukan interpretasi yang berbeda dari musik Bach. Lianto mempunyai sebuah gaya yang tidak dimiliki gitaris lain. Kami cukup beruntung bisa mengenal dirinya lebih jauh.

Bisa ceritakan latar belakang pendidikan dan perjalanan karir musik Anda di gitar klasik? 

Lianto: Riwayat singkatnya, saya bermain gitar pop sejak kelas 5 SD dan berlanjut belajar gitar klasik di YASMI dengan Trie, Priadi, dan mas Yanto sebagai para pengajarnya. Pada masa itu saya sering ikut Pertandingan Nasional Gitar Klasik Indonesia. Lalu saya lanjut belajar kepada Jos Breddie, kemudian pada tahun 1984 saya pergi ke Jerman. Di kota, Koln saya memperdalam ilmu gitar kepada Profesor Eliot Fisk. Tahun 1988 saya mengadakan peristiwa gitar yang besar di Indonesia yang berjudul PAGELARAN GITAR KOLOSAL SURABAYA. Konser tersebut melibatkan 200 gitaris dan 70 Koor dalam ensemble, dan saya sebagai dirigentnya sekaligus aransemen lagu (bisa search di Youtube: PKGKS Lianto Tjahjoputro). Tahun 1991 saya kembali mengikuti Kompetisi Nasional Indonesia Gitar Klasik dan menjadi juara pertama. Selanjutnya, saya tinggal di Bali dan membentuk organisasi PGKRI yaitu Pagelaran Gitar Kolosal Rakyat Indonesia (Search Youtube : PGKRI Lianto Tjahjoputro). Hingga sekarang, saya memimpin organisasi ini sekaligus nama kursus saya di Bali.

Bagaimana cara Anda mengaransemen karya choral Bach yang kompleks ke gitar?

Lianto: Cukup sulit. Jika orang bertanya apa karya Bach/ Beethoven/ Mozart terbesar? Pasti orang sulit menjawab, orang-orang hanya bisa menyebutkan jawaban 10 karya besar Beethoven dan Bach. Demikian pula saat itu, saya terobsesi dengan 10 karya terbesar Bach. Setelah mendengarkan karya-karya tersebut, saya berpendapat dan akhirnya memilih bahwa yang terbesar adalah St Matthew Passion dan St John Passion. Alasannya, dua karya Bach itu bagi  saya pribadi ialah suatu karya yang membawa jiwa dan roh kita membumbung tinggi ke alam spiritual tiada batas. Akhirnya, saya terobsesi untuk memainkan karya itu di gitar, dan saat itu saya bertekad akan mentranskripsi karya tersebut Tanpa limit waktu. Artinya, jika ternyata aransemen saya selesai dalam waktu 10 tahun pun akan saya jalani. Ternyata, St Matthew Passion selesai dalam waktu 3 tahun dan St John Passion selesai dalam waktu 2 tahun. Padahal biasanya saya bisa mentranskripsi lagu lain dalam waktu yang lebih singkat.

Di video Youtube yang Anda buat, terlihat bahwa Anda mengkolaborasikan karya Bach dengan Meditasi Pancasila, serta hiasan spiritual seperti dupa. Apa pesan yang ingin Anda sampaikan melalui video tersebut? dan siapa Bach untuk Anda?

Lianto: Karena karya Bach St John Passion ‘Herr Unser Herscher’ itu merupakan karya seni sekaligus bersifat spiritual yang dalam, mungkin orang pada umumnya tidak mengetahui dan menikmati itu sebagai hal yang spiritual. Mungkin banyak pemain gitar klasik yang memainkan karya Bach, tapi mereka tidak tahu dan tidak mengenal karya terbesar Bach yang berjudul St Matthew Passion dan St John Passion. Maka, saya perjelas nuansa spiritual itu dengan menambah alat sembahyang seperti ting shaw, singing bowl, bajra, serta mantram, dan saya kemas dalam judul Pancasila Meditation.

Mengingat bahwa Anda sudah berdedikasi lama dalam dunia gitar klasik, bagaimana pendapat Anda tentang situasi gitar klasik di Indonesia saat ini?

Lianto: Menurut saya, gitar klasik di Indonesia dan dunia telah berubah di zaman global ini setelah ada media sosial seperti Facebook dan Youtube. Orang-orang kini bisa melihat gitaris besar dari belahan dunia manapun hanya melalui komputer atau handphone. Di Indonesia masih ada perjuangan orang-orang “Gila Gitar” yang mengadakan pagelaran dan kompetisi untuk mencari bibit-bibit baru. Saya sebut “Gila Gitar” karena mereka sudah pasti mengeluarkan biaya besar dan sulit untung, jadi mereka berani merugi. Tetapi, tetap saja perjuangannya masih hanya berjuang ke-daerahan atau untuk para orang sendiri saja. Para gitaris yang terlibat dan terpilih hanya gitaris yang dikenal baik.

Menurut Anda, bagaimana hubungan gitar klasik dengan nilai-nilai kemanusiaan?

Lianto: Saya kurang mampu berbicara yang bermuluk-muluk tentang gitar dan kemanusiaan, karena  kemanusiaan disini punya dua arti. Kemanusiaan dalam arti manfaat untuk orang banyak, atau kemanusiaan untuk diri pribadinya sendiri setelah belajar gitar. Kalau manfaat untuk manusia yang belajar gitar itu sendiri, jelas, gitar klasik membawa kita ke tataran selera musik yang lebih tinggi, membawa kita ke nuansa spiritual untuk lagu-lagu tertentu, membuat manusia berbeda dalam menyikapi situasi sedih dan gembira yang silih berganti.

Apa harapan Anda untuk gitar klasik Indonesia kedepannya?

Lianto: Saya berharap, semoga Gitar Klasik bisa selalu menjadi salah satu pilihan instrumen musik menarik yang mengakibatkan banyak orang mempelajarinya.

Advertisements

2 comments on “Interview: Lianto Tjahjoputro’s spritual interpretation of Bach’s masterpiece

  1. Hormat saya kepada Pak Lianto yang telah banyak memberikan inspirasi kehidupan spiritual yang dalam dan tinggi.

    Liked by 1 person

  2. You are the best guitarist and music teacher I have ever met in my life…..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: