Features Interview

Interview: Gitar duo Yogyakarta, See n See

Bisa ceritakan sedikit tentang bagaimana duo ini terbentuk dan latar belakang pendidikan musik masing-masing? Mengapa memilih nama CnC (See n See)?

Cornel: Sebenarnya karena kami sudah menikah. Selain itu kami berdua suka gitar dan Tia (Cressentia) juga instruktur gitar. Jadi, memang keseharian kami sangat dekat dengan gitar. Awalnya duo ini adalah hasil program kegiatan kami dirumah merekam diri sendiri. Hal tersebut juga merupakan salah satu metode kami untuk meninjau hasil belajar selama ini, jadi bisa evaluasi bersama dengan detail setiap video yang kami buat. Kami berusaha memanfaatkan sisi positif sosial media saat ini.

Cressentia: Latar belakang pendidikan musik kami berdua adalah Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan instrumen mayor gitar.

Cornel: CnC cuma inisial dari nama kami, kemudian di “plesetkan” menjadi akronim See n See, lebih enak di ucapkan dan mudah di ingat.

Apakah sulit untuk mencari “sound” yang tepat untuk dua gitar yang berbeda (steel dan nylon)?

Cornel: Kalau yang dimaksud adalah sound di panggung, saya jawab iya. Karena kami belum punya sound engineer (SE) sendiri. Tidak semua SE di setiap pertunjukan memahami karakter gitar nylon dan steel. Jadi, dalam tiap pertunjukan di panggung kami selalu berusaha untuk melakukan soundcheck dan berdiskusi sebaik-baiknya dengan SE.

Dan kalau sound yang dimaksud adalah memformulasikan dua jenis senar yang berbeda dalam sebuah permainan duo gitar, ini lebih sulit. Kami harus tahu batasan masing-masing Gitar kami. Kami harus paham betul perbedaan teknik dan frekuensi suara dua gitar yang berbeda ini. Hal tersebut juga menjadi faktor dalam menentukan pemilihan repertoar.

Bagaimana dengan repertoar? bisa ceritakan tentang genre musik yang dimainkan saat ini dan apakah terbuka untuk genre lainnya?

Cornel: Kami sangat bertolak-belakang untuk urusan musik, khususnya gitar, meski satu kampus, namun proses belajar dan penggalian bermusik kami sangat berbeda. Tia bertahun-tahun concern di dunia klasik sedangkan saya lebih banyak di industri musik. Jadi, sulit bagi kami mengikrarkan genre musik yang kami mainkan. Kami sangat terbuka dengan genre apapun. Misalnya, pada karya aransemen Tico Tico No Fuba (versi fourhand) kami, ada irama dangdut agar terasa lebih lebih “Indonesia”.

Kami selalu berusaha menyeimbangkan antara selera dan keilmuan; citarasa dan kejujuran bermain gitar. Kami tidak ingin memainkan sebuah karya hanya semata-mata karena banyak orang yang suka dan karya yang sedang populer saat ini, walaupun sebenarnya kami tidak suka.

Apakah pernah mengalami masalah dengan sound system? Apalagi untuk gitar klasik nylon, apakah harus mencari mikrofon khusus?

Cornel: Pasti, dalam setiap pertunjukkan live selalu ada yang berbeda. Prinsip kami adalah telinga penonton lebih diutamakan. Penonton jelas tidak tahu dan tidak mau tahu kondisi di panggung, yang penting sound yang dihasilkan harus bagus.

Masalah juga kami hadapi terutama di ruangan terbuka. Pemilihan mikrofon untuk gitar klasik sangat penting. Gitar klasik tanpa preamp bawaan idealnya membutuhkan sound PA agar spektrum suara gitar dapat didengar dengan baik. Kami didukung oleh SeruniAudio, salah satu perusahaan mikrofon kondensor dalam negeri..

Dalam berkerja sama dalam duo, pasti banyak kesulitan yang pernah dialami, secara musikal maupun personal. Apakah berkenan untuk “curcol” sedikit tentang perjalanan meniti karir selama ini?

Cressentia: Banyak sekali cerita sepanjang perjalanan CnC, terutama proses latihannya. Yang namanya adu argumen sering terjadi. Cornel sangat perfeksionis dan disiplin dalam urusan latihan. Banyak ilmu yang saya dapat dari Cornel tentang musik dan gitar. Bukan karena dia suami lalu terus saya puji. Saya kagum dengan dia.

Cornel: Saya hanya selalu berusaha memaksimalkan dan memanfaatkan waktu di tengah kesibukan Tia sebagai Ibu. Penonton tidak akan memaklumi sebuah pertunjukan musik yang buruk hanya karena kami pasutri yang romantis. Saya tidak pernah main-main untuk urusan musik dan sesuatu yang saya cintai.

Bagaimana pengalaman bermain di Valerio Guitar Festival kemarin di Jogja?

Cressentia : Seru banget! Senang sekali diundang tampil di Valerio Guitar Festival.

Cornel: Betul, sangat menarik. Saya sangat salut dengan kinerja tim panitia. Meskipun saya merasa ragu pada saat ditawarkan. Dikarenakan oleh pemberitahuan yang mendadak (H-12) dan perbedaan repertoar dengan tema festival gitar klasik.

Apa mimpi duo ini di masa depan? apakah ingin berbagi sedikit soal proyek-proyek ke depannya?

Cornel: Kami ingin sekali segera punya album gitar duo dengan karya-karya sendiri. Lebih penting lagi, kami sangat berharap semoga apa yang sudah kami lakukan menjadi manfaat dan kebaikan bagi semua orang dan pecinta musik, khususnya gitar.

Live at Valerio International Guitar Festival V 2017 Yogyakarta.
All Microphones: Using SeruniAudio SEM-01 with Guitar Accessories.
Audio Recorded: Focusrite Scarlet 2i2
Mastering: @threeways_studio (Instagram)
Advertisements

0 comments on “Interview: Gitar duo Yogyakarta, See n See

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: